AB CHANNEL – Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mengisi kepala dengan ilmu, tetapi juga menumbuhkan hati yang peduli.
Sebab, masa depan sebuah daerah tidak hanya lahir dari siswa yang cerdas, melainkan dari generasi yang mampu mencintai sesama, menghormati lingkungan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Semangat itulah yang terasa dalam penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dirangkaikan dengan Selasa Berseri dan Aksi Ekologi di Lapang Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, Selasa (22/7/2026).
Ratusan siswa dari berbagai sekolah di Kecamatan Jatiwangi dan Palasah turun langsung membersihkan lingkungan sekitar.
Dengan sapu, kantong sampah, dan senyum di wajah, mereka membuktikan bahwa mencintai bumi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Majalengka Eman Suherman, jajaran Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, KCD IX Disdik Provinsi Jawa Barat, unsur Muspika, pemerintah desa, serta para tenaga pendidik yang bersama-sama meneguhkan komitmen menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, indah, dan ramah anak.Bagi Bupati Eman Suherman, pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas.
Karakter tumbuh ketika anak-anak diajak merawat lingkungan, belajar bergotong royong, dan memahami bahwa alam adalah sahabat yang harus dijaga, bukan sekadar dimanfaatkan.
“Melalui Selasa Berseri, kita tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menanamkan budaya hidup bersih dan kepedulian terhadap alam. Aksi Ekologi menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga keseimbangan lingkungan demi masa depan generasi Majalengka yang lebih baik,” ungkapnya.
Bupati pun memberikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka yang terus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih humanis, tempat anak-anak merasa aman untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, H. Muhamad Umar Ma’ruf, menyampaikan bahwa pelaksanaan MPLS tahun ini berlangsung tertib dan penuh makna.
Tidak ada ruang bagi senioritas ataupun perpeloncoan. Sebaliknya, sekolah menjadi rumah pertama yang menyambut peserta didik baru dengan nilai-nilai persaudaraan, penghormatan, dan kasih sayang.
Melalui deklarasi anti-kekerasan, anti-kejahatan, anti-penyalahgunaan narkoba, hingga pencegahan kekerasan seksual, para siswa diajak memahami bahwa menjadi pelajar bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab.
Di penghujung kegiatan, ratusan pelajar bergotong royong membersihkan kawasan sekitar kecamatan dan Lapang Alun-alun Sutawangi.
Barangkali sampah yang mereka angkut tak seberapa dibanding luasnya bumi. Namun dari tangan-tangan muda itulah tumbuh harapan, bahwa kepedulian yang ditanam hari ini akan berbuah menjadi budaya yang menjaga Majalengka tetap hijau, bersih, dan penuh kehidupan di masa depan.*** (AB)



















