banner 728x250
Daerah  

Grup Facebook ‘Kaum Pelangi Majalengka’ Jadi Sorotan, PUI Ajak Masyarakat Kedepankan Edukasi dan Literasi Digital

banner 120x600
banner 468x60

AB CHANNEL– Keberadaan sebuah grup tertutup di Facebook yang menggunakan nama “Kaum Pelangi Majalengka” menjadi perhatian publik setelah diketahui memiliki ribuan anggota. Minggu, 19 Juli 2026.

Fenomena ini memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat, termasuk dari Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Umat Islam (DPD PUI) Kabupaten Majalengka, yang mengajak semua pihak menyikapinya secara bijak melalui pendekatan edukatif.

banner 325x300

Berdasarkan penelusuran online AB CHANNEL, grup tersebut masih dapat ditemukan melalui fitur pencarian Facebook meski berstatus privat.

Grup itu tercatat dibuat pada 9 Juli 2022 dan hingga pertengahan Juli 2026 memiliki sekitar 4.389 anggota.

Dalam deskripsi grup, pengelola menyebutkan bahwa wadah tersebut dibentuk sebagai ruang interaksi sosial untuk memperluas pertemanan agar para anggotanya tidak merasa kesepian.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua DPD PUI Kabupaten Majalengka, KH Asep Zaki Mulyatno, menyampaikan keprihatinannya.

Menurutnya, keberadaan komunitas digital dengan jumlah anggota yang cukup besar perlu menjadi perhatian bersama, namun harus disikapi melalui langkah-langkah yang mengedepankan edukasi, dialog, dan pembinaan.

“Keberadaan grup dengan jumlah anggota yang cukup besar tentu menjadi perhatian kami. Hal ini perlu disikapi melalui langkah-langkah penyadaran yang melibatkan berbagai unsur,”ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Asep Zaki menjelaskan, PUI akan memperkuat upaya edukasi melalui jalur pendidikan dan kegiatan keagamaan.

Sebagai organisasi yang menaungi ratusan lembaga pendidikan di Kabupaten Majalengka, PUI berencana mengoptimalkan peran para pendidik dalam menanamkan nilai-nilai sosial, moral, dan keagamaan kepada para peserta didik.

Selain itu, isu tersebut juga telah menjadi salah satu pembahasan dalam forum Musyawarah Gerakan Persatuan Organisasi Islam Lawan Maksiat (GEMMA).

Salah satu gagasan yang muncul adalah memasukkan materi mengenai tantangan sosial di era digital ke dalam kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau program pengenalan lingkungan sekolah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter.

Menurutnya, tantangan yang muncul di ruang digital tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.

Diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun karakter generasi muda.

“Ini harus menjadi gerakan bersama. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam membentuk kesadaran dan karakter masyarakat,” tegasnya.

Fenomena komunitas digital yang berkembang melalui media sosial menunjukkan bahwa ruang virtual telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Karena itu, peningkatan literasi digital, penguatan pendidikan karakter, serta pemahaman mengenai etika bermedia sosial dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu menggunakan media digital secara bertanggung jawab dan bijaksana.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pengelola grup Facebook tersebut mengenai perhatian publik yang berkembang.

Pemberitaan ini disusun untuk menyampaikan informasi secara berimbang dan tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu maupun kelompok tertentu.***

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *