oleh: Redaksi
AB CHANNEL– Hamparan sawah yang biasanya menghijau kini mulai kehilangan warnanya. Tanah-tanah yang dahulu lembut oleh aliran air perlahan merekah, sementara batang-batang padi berdiri layu, seakan menunggu setetes harapan yang tak kunjung turun dari langit.
Musim kemarau yang terus memanjang mulai meninggalkan jejak kecemasan di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka. Debit air irigasi menurun, mata air mulai mengering, dan para petani kini dihadapkan pada ancaman gagal panen.
Di tengah ikhtiar yang terus dilakukan, dari memompa air hingga membuat bendungan sederhana, ada satu harapan yang tak pernah putus dipanjatkan semoga langit segera berbelas kasih.
Ketika sungai mulai menyusut, tanah-tanah sawah merekah, dan padi kehilangan hijaunya, manusia kembali diingatkan bahwa ada kuasa yang tak mampu ditaklukkan oleh teknologi.
Di saat itulah umat Islam mengenal sebuah ikhtiar spiritual yang diwariskan Rasulullah SAW, yaitu Salat Istisqa, salat sunnah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.Salat Istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan.
Ia adalah wujud kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Ketika segala usaha telah dilakukan—membangun bendungan, memompa air, memperbaiki saluran irigasi—doa menjadi pelengkap ikhtiar yang tak boleh ditinggalkan.
Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW mencontohkan pelaksanaan Salat Istisqa ketika wilayah Madinah dilanda kekeringan.
Beliau mengajak umat keluar menuju lapangan terbuka, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian berdoa dengan penuh kekhusyukan memohon agar Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat, bukan bencana.
Salat ini juga mengandung pesan mendalam bahwa memohon hujan bukan hanya tentang meminta air turun dari langit, tetapi juga mengajak setiap insan untuk memperbanyak istigfar, bertaubat, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Di tengah ancaman kekeringan yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Majalengka, Salat Istisqa menjadi pengingat bahwa manusia memiliki batas.
Ada saat ketika tangan yang bekerja di sawah harus bersanding dengan tangan yang terangkat dalam doa.
Di balik setiap petak sawah yang mengering, tersimpan doa-doa yang mungkin tak terdengar oleh manusia, tetapi terus dipanjatkan kepada Sang Pemilik Langit.
Sebab petani memahami, air bukan hanya menghidupkan tanaman, tetapi juga menghidupkan harapan.
Kini, Majalengka menunggu. Menunggu awan gelap datang tanpa membawa bencana. Menunggu hujan turun tanpa harus disertai air mata.
Dan menunggu saat ketika pintu langit benar-benar terbuka, mengirimkan rahmat yang mampu menghidupkan kembali sawah-sawah yang mulai kehilangan napasnya.***

















