AB CHANNEL– Trotoar seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki. Namun ketika fungsinya perlahan hilang, yang tersisa hanyalah semrawut yang menggerus wajah kota.
Pemandangan itulah yang memantik kemarahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan inspeksi mendadak di Jalan Suci, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Selasa (4/8/2026).
Di sepanjang jalan, trotoar dipenuhi pedagang kaki lima, bahkan sebagian mendirikan tenda hingga memakan bahu jalan.
Tak jauh dari sana, kendaraan tua yang disebut telah lama terparkir semakin mempersempit ruang publik.
Di tengah kondisi itu, Dedi Mulyadi memanggil Camat Coblong, Ratnarahayu Pitriyati Di hadapan warga, teguran pun terlontar tanpa tedeng aling-aling.
Menurut camat, para pedagang sebenarnya sudah beberapa kali diberikan teguran. Namun bagi Dedi, peringatan tanpa tindakan hanya akan menjadi kata-kata yang hilang diterpa waktu.
“Bukan diberitahu, Tapi tindakan, orang bikin tenda tidur di situ masak di situ gimana sih masa gubernur yang nanganin,” Tegur Gubernur dikuti AB CHANNEL dari YouTube KDM. Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup bekerja dari balik meja. Kehadiran di tengah masyarakat, memastikan aturan berjalan, dan menjaga fasilitas publik merupakan bagian dari tanggung jawab yang tak bisa diabaikan.
“Camat tiap hari keliling di cek, (wilayahnya) malu harusnya sampai gubernur ngurusin begini, kalau ibu gak mau eksekusi jangan jadi camat. Ngapain di kantor terus camat itu keluar (cek) parkir liar dimana mana,” tegas Gubernur Jabar.
Suasana mendadak hening. Camat Coblong memilih terdiam menerima teguran tersebut, sementara sorotan warga mengiringi momen yang kemudian ramai diperbincangkan setelah diunggah Dedi Mulyadi melalui akun Instagram pribadinya.
Berdasarkan informasi yang didapat AB CHANNEL, Camat Coblong tersebut baru dilantik pada bulan Juni 2026 kemarin.
Peristiwa itu bukan sekadar teguran kepada seorang camat. Di balik nada tinggi yang terdengar, tersimpan pesan bahwa ruang publik adalah milik masyarakat yang harus dijaga bersama.
Sebab ketika trotoar kehilangan fungsinya, yang sesungguhnya hilang bukan hanya jalan bagi pejalan kaki, tetapi juga wajah ketertiban sebuah kota.***



















