Responsif

Sup Telur Puyuh Diduga Jadi Pemicu! Sekitar 100 Siswa di Cirebon Alami Gejala Keracunan Usai Santap MBG

AB CHANNEL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi sorotan setelah sekitar 100 siswa sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK) mengalami dugaan keracunan makanan pada Selasa (20/10/2026).

Menu sup telur puyuh yang dikeluhkan terasa asam dan tidak enak menjadi salah satu perhatian dalam penyelidikan dugaan keracunan massal tersebut. Namun, penyebab pasti kejadian ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran karena makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak yang menjadi penerima manfaat program MBG.

Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala berupa mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah menyantap makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga Lima.

Keluhan terhadap menu sup telur puyuh yang disebut terasa asam dan tidak enak menjadi salah satu informasi penting yang kini perlu ditelusuri lebih lanjut.

Rasa dan aroma makanan yang tidak normal dapat menjadi tanda perlunya pemeriksaan keamanan pangan. Meski demikian, keluhan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa sup telur puyuh merupakan penyebab langsung gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Untuk mengetahui sumber kejadian, diperlukan pemeriksaan sampel makanan serta penyelidikan mengenai proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi makanan kepada para penerima manfaat.

Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat membantu mengungkap apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan para siswa mengalami gejala serupa.

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengatakan pemerintah memprioritaskan keselamatan dan penanganan medis bagi anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

“Jumlahnya semuanya kurang lebih 100,” kata Edo saat meninjau penanganan korban pada Selasa malam (20/10/2026).

Para siswa yang mengalami gejala dilaporkan mendapatkan perawatan di empat rumah sakit, yakni RS Siloam Putera Bahagia, RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, dan RS Cahaya Bunda.

Menurut Edo, kondisi sebagian pasien mulai membaik. Beberapa di antaranya bahkan telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.

Pemerintah daerah terus memprioritaskan kondisi para siswa yang terdampak agar mereka memperoleh perawatan sesuai kebutuhan.

Sebagai langkah tindak lanjut, operasional dapur SPPG tersebut dilaporkan dihentikan sementara atau berstatus suspend oleh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon.

Dapur tersebut diketahui melayani sekitar 2.500 penerima manfaat setiap hari.

Penghentian sementara ini menjadi langkah penting untuk mendukung pemeriksaan dan evaluasi keamanan pangan, sekaligus mencegah potensi risiko berulang selama penyebab kejadian masih ditelusuri.

Petugas juga telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Sementara itu, lokasi kantor SPPG dilaporkan berada dalam penjagaan aparat kepolisian.

Hasil pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab kejadian serta langkah yang perlu dilakukan terhadap operasional penyedia makanan tersebut.

Dugaan keracunan yang menimpa puluhan hingga sekitar 100 siswa ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap makanan dalam program MBG.

Keamanan pangan perlu diperhatikan sejak pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa. Pemeriksaan kualitas makanan juga penting untuk memastikan hidangan tetap layak dikonsumsi.

Apabila makanan memiliki rasa, aroma, atau kondisi yang tidak normal, hal tersebut perlu segera dilaporkan dan ditindaklanjuti oleh petugas terkait.

Masyarakat pun menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kejadian di Kecamatan Harjamukti tersebut.

Kasus ini diharapkan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG semakin mengutamakan keselamatan penerima manfaat, khususnya anak-anak.

Sebab, tujuan menyediakan makanan bergizi bagi siswa harus berjalan seiring dengan jaminan bahwa makanan yang diberikan aman, layak konsumsi, dan memenuhi standar kesehatan.

AB CHANNEL akan terus memantau perkembangan penanganan kasus ini, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium dan keterangan resmi dari pihak berwenang.*** (AB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *