AB CHANNEL – Di tengah musibah yang menimpa Nino Sutrisno, warga Desa Banjaran, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, secercah harapan mulai datang. Rumah yang menjadi tempat berlindungnya telah ambruk, hingga Nino pun memohon bantuan kepada pemerintah.
Permohonan itu sebelumnya disampaikan melalui sebuah video yang kemudian diunggah oleh AB CHANNEL. Video tersebut mendapat respons dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Desa Banjaran dan Kecamatan Sumberjaya.
Tak menunggu lama, kepedulian pun bergerak.
Pada sore hari, Kepala Desa Banjaran Hj. Susilo Purnawati Agustin bersama Camat Sumberjaya Wahyu, Danramil serta jajaran kepolisian setempat turun langsung meninjau lokasi rumah Nino yang ambruk.
Kehadiran mereka menjadi harapan tersendiri bagi Nino. Di tengah kondisi rumah yang sudah tidak lagi memberikan rasa aman, perhatian dan kepedulian mulai berdatangan.
Kepala Desa Banjaran, Hj. Susilo Purnawati Agustin, saat dihubungi AB CHANNEL, mengungkapkan bahwa sebelumnya dirinya telah mendapatkan informasi mengenai kondisi rumah Nino dari Ketua Rukun Tetangga atau RT setempat.
Tak hanya pemerintah desa yang bergerak, kepedulian juga datang dari warga. Secara swadaya, masyarakat mulai urunan dan mengumpulkan berbagai kebutuhan material, termasuk kayu dan bahan lainnya, untuk membantu meringankan beban Nino.
Menurut Purnawati, pihak Pemerintah Desa Banjaran juga tengah berupaya mencari jalan agar rumah Nino dapat kembali dibangun dengan layak.
“Kami kemarin juga mengajukan proposal bantuan ke Baznas untuk pembangunan rumah Pak Nino,” ujar Kepala Desa Banjaran. Selasa, 25 Agustus 2026.
Upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah Desa Banjaran juga berkomitmen untuk memprioritaskan rumah Nino apabila Desa Banjaran mendapatkan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Menariknya, berdasarkan informasi yang diperoleh, beberapa tahun sebelumnya rumah Nino Sutrisno juga pernah mendapatkan bantuan pembangunan melalui program Rutilahu sebanyak dua kali.
Kini, setelah rumahnya kembali ambruk, perjuangan Nino untuk memiliki tempat tinggal yang aman kembali dimulai.
Namun kali ini, ia tidak sepenuhnya sendiri.
Dari laporan Ketua RT, kepedulian warga yang bergotong royong mengumpulkan material, hingga langkah Pemerintah Desa Banjaran dan Kecamatan Sumberjaya yang turun langsung ke lokasi, semua menjadi gambaran bahwa di tengah musibah, masih ada tangan-tangan yang bergerak membawa harapan.
Bagi Nino, mungkin rumah yang ambruk itu bukan sekadar bangunan yang roboh. Bersamanya, ada harapan untuk kembali memiliki tempat berteduh.
Dan kini, harapan itu perlahan sedang dibangun kembali—bersama kepedulian warga dan pemerintah yang memilih untuk tidak tinggal diam.*** (AB)





















