banner 728x250
Daerah  

Di Tengah Retaknya Tanah, Harapan Itu Datang Kala Wakil Ketua DPRD Majalengka Bantu Atasi Ancaman Gagal Panen

banner 120x600
banner 468x60

AB CHANNEL – Ketika musim kemarau memanjangkan jejaknya di atas hamparan sawah, tanah mulai merekah dan aliran air kian menipis.

Di balik langit yang enggan menurunkan hujan, para petani hanya bisa menatap tanaman mereka dengan doa agar musim tidak berubah menjadi musibah.

banner 325x300

Di tengah kegelisahan itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Majalengka, Kombes Pol (P) Dr. H. Juhana Zulfan, M.M., memilih untuk tidak hanya mendengar laporan dari balik meja.

Ia datang langsung menyusuri pematang sawah, menyapa para petani, melihat sendiri denyut kehidupan yang tengah berjuang melawan ancaman kekeringan.

Langkahnya bukan sekadar kunjungan. Bersama masyarakat, ia turut membantu pembangunan bendungan sederhana di Desa Leuweunghapit, Kecamatan Ligung, Majalengka sebagai ikhtiar menahan setiap tetes air agar tetap mengalir menuju petak-petak sawah yang mulai kehausan.

Bendungan itu mungkin sederhana bentuknya, tetapi menyimpan harapan besar agar bulir padi tetap tumbuh, menghijau, dan kelak menguning menjadi sumber kehidupan.

“Air adalah napas bagi sawah. Ketika alirannya terjaga, harapan petani pun tetap hidup,” menjadi semangat yang tergambar dari aksi nyata tersebut.

Dalam kesempatan itu, Juhana Zulfan juga memohon perhatian Pemerintah Kabupaten Majalengka agar persoalan kekeringan segera mendapat penanganan serius.

Ia berharap seluruh kekuatan pemerintah dapat bergerak bersama menyelamatkan lahan pertanian yang kini berada di ambang ancaman gagal panen.

“Kami memohon kepada Bapak Bupati Majalengka agar dapat segera membantu menangani persoalan ini. Para petani sangat membutuhkan dukungan dan solusi nyata agar sawah mereka tidak mengalami gagal panen,” ujarnya.

Bagi petani, setiap musim tanam adalah pertaruhan harapan. Setiap bulir padi yang tumbuh bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga penopang ketahanan pangan dan kehidupan ribuan keluarga.

Karena itu, kehadiran seorang pemimpin di tengah sawah bukan sekadar simbol kepedulian, melainkan pesan bahwa jerih payah petani tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Semoga kepedulian ini menjadi awal dari sinergi yang lebih luas antara pemerintah, legislatif, dan seluruh elemen masyarakat.

Sebab ketika air kembali mengalir di pematang, bukan hanya sawah yang kembali hijau, tetapi juga harapan para petani Majalengka yang kembali tumbuh, mengakar, dan menguat demi menjaga lumbung pangan daerah.***

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *