AB CHANNEL – Di tengah hamparan sawah yang mulai kehilangan warna hijaunya, tak hanya tanah yang mengering. Harapan seorang petani pun perlahan ikut retak, menanti air yang tak kunjung mengalir. Kamis, 30 Juli 2026.
Pemandangan mengharukan itu terjadi saat Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, meninjau langsung lokasi kekeringan di Desa Leuweunghapit, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.
Di hadapan orang nomor satu di Majalengka itu, seorang petani bernama Suwirjo tak lagi mampu menyembunyikan beban yang selama ini dipikulnya.
Dengan suara yang bergetar dan mata yang dipenuhi air mata, ia menceritakan perjuangan yang nyaris menjadi rutinitas setiap musim kemarau.
Bukan sekali atau dua kali. Hampir setiap tahun, Suwirjo harus menghadapi persoalan yang sama: sawah yang haus karena sulitnya pasokan air.
“Udah cape begini terus pak, Hapir setiap tahun begini pak,” Ujar Suwirjo sembari terisak
Kalimat demi kalimat keluar dengan terbata-bata. Tangisnya pecah, seolah menjadi bahasa yang tak lagi mampu diwakili oleh kata-kata.
Bertahun-tahun menanam padi, bertahun-tahun pula ia hidup dalam kecemasan akan ancaman gagal panen.
Di hadapan Bupati, Suwirjo tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap air dapat mengalir ke sawahnya, agar benih yang ditanam dengan penuh harapan tidak berakhir menjadi batang-batang kering yang gagal menghasilkan bulir padi.
Momen itu menjadi potret nyata bahwa di balik setiap butir nasi yang tersaji di meja makan, ada perjuangan panjang para petani yang sering kali tak terlihat.
Ada peluh yang menetes, ada doa yang dipanjatkan, bahkan ada air mata yang jatuh karena alam tak lagi bersahabat.
Kunjungan Bupati Majalengka ke lokasi kekeringan diharapkan menjadi awal dari solusi nyata bagi para petani di wilayah tersebut.
Sebab bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan irigasi, melainkan denyut kehidupan yang menjaga sawah tetap hidup, keluarga tetap bertahan, dan harapan tetap tumbuh di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.***



















