AB CHANNEL — Perkemahan biasanya identik dengan tenda, api unggun dan kegembiraan anak-anak muda. Namun, bagi Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman, kegiatan Pramuka tidak boleh berhenti sebagai pengalaman bermalam di bumi perkemahan.
Herman menegaskan, Gerakan Pramuka di Jawa Barat harus menjadi “Kawah Candradimuka” bagi lahirnya Generasi Pancawaluya sekaligus calon pemimpin masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Herman saat menutup Perkemahan Terpadu dan Lomba Tingkat II (LT II) Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Situraja di Bumi Perkemahan Candra Singa Balingbing Dua, Desa Situraja, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Rabu (26/8/2026).
Yang menarik, kegiatan tersebut diikuti 1.214 peserta dan pembina dari berbagai jenjang pendidikan, terdiri dari 26 sekolah dasar, 10 SMP/MTs serta 9 SMA/SMK.
Pulang dari Kemah Harus Jadi Lebih Baik
Di hadapan ribuan peserta, Herman mengingatkan bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan tambahan di sekolah ataupun agenda tahunan.
Menurutnya, setiap kegiatan Pramuka harus meninggalkan “jejak” berupa perubahan karakter.
“Pramuka bukan hanya formalitas ngagugurkeun kawajiban, harus ada tapaknya. Setiap kegiatan Pramuka harus ada tapaknya, paling tidak membangun karakter,” kata Herman.
Ia bahkan memberikan tantangan kepada para pembina.
Setelah kegiatan berakhir, peserta harus memiliki perubahan positif dibanding sebelum mengikuti perkemahan.
“Setelah pelaksanaan selesai maka lebih cageur lagi, lebih bageur lagi, lebih bener lagi, lebih pinter lagi dan lebih singer lagi. Kalau tidak, ya untuk apa kita melaksanakan Jambore? Untuk apa melaksanakan perkemahan terpadu. Jadi harus ada hasilnya,” tegasnya.
Pesan itu menjadi penekanan bahwa keberhasilan sebuah perkemahan bukan diukur dari meriahnya acara, tetapi dari apa yang berubah dalam diri peserta setelah kembali ke rumah dan sekolah.
Dari Pramuka Disiapkan Calon Pemimpin
Herman juga mengingatkan bahwa perjalanan seorang Pramuka pada dasarnya merupakan proses pembentukan kepemimpinan.
Mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak hingga Pandega, setiap tahapan menjadi ruang untuk belajar bertanggung jawab, berkarya dan mengambil peran.
“Kalau digali lebih jauh, Pramuka itu adalah pemimpin. Bagaimana kalian sejak Siaga, Penggalang, Penegak, kemudian Pandega, menjadi para pemimpin, menjadi orang-orang yang berkarya,” ujarnya.
Karena itu, Gerakan Pramuka dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda yang kelak mengisi berbagai bidang kehidupan.
1.214 Orang Diajak Jadi Generasi Pancawaluya
Herman kemudian mengajak seluruh peserta menjadi bagian dari Generasi Pancawaluya, sejalan dengan visi pembangunan Jawa Barat.
Menurutnya, karakter yang dibangun melalui kegiatan Pramuka diharapkan dapat menjadi modal untuk mewujudkan cita-cita pembangunan daerah hingga nasional.
“Semua tanpa terkecuali, yang ikut perkemahan terpadu harus menjadi generasi Pancawaluya,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama perkemahan tidak berhenti ketika tenda dibongkar.
Justru setelah kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing, nilai kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan dan kepedulian harus semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Target Besarnya: Indonesia Emas 2045
Herman melihat pembentukan karakter melalui Gerakan Pramuka sebagai investasi jangka panjang.
Generasi yang hari ini belajar di bumi perkemahan diharapkan menjadi bagian dari generasi yang menyongsong Indonesia Emas 2045, bahkan ikut membawa Indonesia menjadi salah satu negara maju di dunia.
“Jadi Pramuka bukan hanya formalitas. Kita bangun generasi muda yang lebih baik sehingga bisa menjemput masa depan melalui Gerakan Pramuka,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh peserta menggelorakan semangat Pancawaluya sebagai bagian dari upaya membangun jati diri generasi muda Jawa Barat.
“Sebagaimana visi Jabar, yakni Pancawaluya ngajati diri. Pramuka Jabar Istimewa, jadi kalian semua harus menjadi generasi Pancawaluya. Kita gelorakan!” tegas Herman.
Dengan pesan tersebut, perkemahan di Situraja tidak sekadar menjadi cerita tentang tenda yang berdiri beberapa hari. Harapannya, ada karakter baru yang ikut pulang bersama 1.214 peserta—dan dari sanalah calon-calon pemimpin masa depan Jawa Barat mulai ditempa.***(Deni)





















