AB CHANNEL— Aktivitas pariwisata di Kabupaten Majalengka menunjukkan tanda-tanda penguatan pada Juni 2026. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke daerah ini meningkat secara bulanan, sementara tingkat penghunian kamar hotel juga bergerak naik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka dalam Berita Resmi Statistik (BRS) No. 17/08/3210/Th. III yang dirilis 3 Agustus 2026 mencatat, sebanyak 270.943 perjalanan wisatawan nusantara menuju Majalengka pada Juni 2026.
Jumlah tersebut meningkat 1,61 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 266.658 perjalanan. Namun, jika dibandingkan Juni 2025, jumlah perjalanan masih turun 11,36 persen dari 305.671 perjalanan.
Kenaikan secara bulanan tersebut salah satunya didorong momentum libur panjang sekolah. Kondisi itu meningkatkan mobilitas masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata domestik ke sejumlah destinasi di Majalengka.
Cirebon Jadi Penyumbang Wisatawan Terbesar
Majalengka masih menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat dari wilayah sekitar Jawa Barat.
BPS mencatat, wisatawan asal Kabupaten Cirebon menjadi penyumbang kunjungan terbesar pada Juni 2026 dengan 43.455 perjalanan. Setelah itu disusul Kabupaten Sumedang sebanyak 25.805 perjalanan, Kabupaten Indramayu 21.254 perjalanan, Kota Bandung 19.780 perjalanan, dan Kabupaten Kuningan 15.110 perjalanan.
Besarnya kunjungan dari daerah-daerah tersebut memperlihatkan kuatnya posisi Majalengka sebagai destinasi wisata bagi wilayah penyangga yang memiliki kedekatan geografis.
Sejumlah daerah bahkan mencatat pertumbuhan kunjungan cukup tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Wisatawan dari Kabupaten Sukabumi meningkat 27,71 persen, Kabupaten Tasikmalaya 21,11 persen, Kota Tasikmalaya 11,73 persen, dan Kabupaten Ciamis 4 persen.
Wisatawan Asing Melonjak dari Kertajati
Sementara itu, arus wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati juga mengalami lonjakan secara bulanan.
Pada Juni 2026, tercatat 477 kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu kedatangan Bandara Kertajati. Jumlah tersebut naik 97,93 persen dibandingkan Mei 2026 yang hanya mencapai 241 kunjungan.
Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir. Meski demikian, angka Juni 2026 masih lebih rendah dibandingkan Juni 2025 yang mencapai 513 kunjungan, atau turun 7,02 persen secara tahunan.
Wisatawan asal Singapura menjadi kelompok terbesar. BPS mencatat terdapat 258 kunjungan dari Singapura atau sekitar 54,09 persen dari total wisatawan mancanegara pada Juni 2026.
Jumlah tersebut melonjak 118,64 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara wisatawan dari kelompok negara lainnya mencapai 203 kunjungan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan arus wisatawan asing melalui Kertajati pada Juni terutama ditopang pasar Singapura, sedangkan kontribusi negara lain masih relatif terbatas.
Hotel Mulai Kembali Terisi
Pergerakan wisatawan juga tercermin dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel.
Pada Juni 2026, TPK gabungan hotel bintang dan nonbintang di Majalengka mencapai 40,65 persen. Angka tersebut meningkat 3,41 poin dibandingkan Juni 2025 yang berada pada level 37,24 persen.
Jika dibandingkan Mei 2026, kenaikannya memang tipis, yakni 0,09 poin dari 40,56 persen. Namun, angka tersebut menunjukkan tingkat okupansi hotel relatif stabil di kisaran 40 persen.
Hotel bintang mencatat TPK sebesar 44,98 persen, turun tipis 0,37 poin dibandingkan Mei 2026. Sebaliknya, hotel nonbintang justru mengalami peningkatan menjadi 33,63 persen atau naik 0,84 poin secara bulanan.
Jika melihat pergerakan sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026, okupansi hotel Majalengka sempat mencapai titik tertinggi pada Desember 2025 sebesar 44 persen. Sebaliknya, titik terendah terjadi pada Februari 2026 dengan 32,26 persen.
Setelah melewati periode awal 2026 yang relatif sepi, tingkat hunian kamar mulai bergerak naik sejak Maret hingga Juni dan bertahan di sekitar 40 persen. BPS menilai kondisi tersebut mengindikasikan adanya pemulihan sektor perhotelan seiring aktivitas pariwisata dan bisnis di Majalengka.
Wisatawan Belum Lama Tinggal
Meski arus wisatawan mulai bergerak positif, tantangan lainnya terlihat dari durasi tinggal.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia jika seluruh hotel digabungkan tercatat 1,14 malam pada Juni 2026. Angka tersebut sama dengan Mei 2026, tetapi meningkat dibandingkan Juni 2025 yang berada di 1,10 malam.
Untuk hotel bintang, rata-rata lama menginap wisatawan domestik meningkat dari 1,13 malam pada Juni 2025 menjadi 1,24 malam pada Juni 2026. Sementara tamu asing justru memiliki rata-rata lama menginap 1,01 malam pada Juni 2026.
Angka-angka tersebut menggambarkan wajah pariwisata Majalengka yang sedang bergerak. Wisatawan domestik mulai kembali ramai, arus wisatawan asing melalui Kertajati melonjak secara bulanan, sementara kamar-kamar hotel perlahan kembali terisi.
Namun, tantangannya bukan hanya mendatangkan wisatawan.
Majalengka juga perlu membuat para pelancong bertahan lebih lama—menghabiskan lebih banyak waktu, menikmati lebih banyak destinasi, dan pada akhirnya memberi dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat serta pelaku usaha lokal.
Di situlah angka-angka statistik pariwisata tersebut menemukan maknanya: bukan sekadar jumlah kunjungan, tetapi tentang seberapa jauh geliat wisata mampu menggerakkan ekonomi daerah.*** (AB)





















