Responsif
Daerah  

Saat Massa Mulai Memanas, Polisi Majalengka Berlatih Menahan Diri Sebelum Bertindak

Polres Majalengka gelar latihan penangan massa

AB CHANNEL — Suara aba-aba terdengar tegas dari Lapangan Polres Majalengka, Kamis (20/8/2026). Barisan personel kepolisian bergerak serempak. Helm, tameng, dan tongkat Dalmas mulai terpasang.

Namun, latihan itu bukan sekadar tentang bagaimana menghadapi massa. Di balik barisan yang tampak kokoh, ada satu hal yang justru sedang diasah: kemampuan mengendalikan situasi tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.

Jajaran Polres Majalengka menggelar Latihan Pengendalian Massa (Dalmas) Gabungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan, kedisiplinan, kesiapsiagaan, serta responsivitas personel dalam menghadapi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), termasuk penanganan aksi unjuk rasa.

Latihan melibatkan personel Polres Majalengka dan Polsek jajaran. Simulasi dipimpin Kasat Samapta Polres Majalengka Iptu Dedi Sutikno, S.H., M.H., didampingi Kapolsek Banjaran AKP Adam Rohmat H, S.H., M.H., serta Kapolsek Dawuan AKP Asep Saepudin, S.Pd.

Skenario dibuat menyerupai kondisi nyata di lapangan. Situasi tidak langsung digambarkan ricuh. Semuanya dimulai dari kondisi yang masih bisa dikendalikan.

Di tahap awal, Tim Negosiator yang diperankan gabungan Polwan Polres dan Polsek jajaran diterjunkan.

Mereka tidak membawa tameng untuk berhadapan dengan massa. Sebaliknya, pendekatan dilakukan melalui komunikasi dan dialog.

Suara-suara persuasif menjadi langkah pertama untuk meredam ketegangan. Para personel dilatih membangun komunikasi agar massa tidak semakin terpancing dan situasi dapat diselesaikan tanpa kekerasan.

Tetapi dalam skenario latihan, keadaan perlahan berubah.

Massa mulai tidak kooperatif. Ketegangan meningkat. Ketika pendekatan persuasif dianggap tidak lagi cukup, formasi pun bergeser.

Tim Negosiator digantikan Dalmas Awal.

Pasukan mulai membentuk barisan untuk membatasi ruang gerak massa dengan tetap mengedepankan tindakan yang terukur dan damai.

Situasi kemudian kembali dinaikkan tingkat eskalasinya. Massa dalam skenario digambarkan semakin anarkis.

Di sinilah kemampuan personel benar-benar diuji.

Dilakukan lapis ganti atau over-lapis dari Dalmas Awal menuju Dalmas Lanjut. Personel mengenakan perlengkapan keamanan lengkap berupa helm, tameng protektif dan tongkat Dalmas.

Barisan yang sebelumnya lebih terbuka berubah menjadi formasi yang lebih kokoh.

Setiap gerakan harus mengikuti aba-aba. Tidak boleh ada personel yang bergerak sendiri. Kekompakan menjadi kunci, karena dalam situasi sebenarnya, satu kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan pengendalian massa.

Kapolres Majalengka AKBP M. Aldy Sulaiman, S.I.K., M.Si., melalui Kasat Samapta Iptu Dedi Sutikno, mengatakan latihan tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan setiap personel memahami tahapan penanganan massa sesuai prosedur operasional standar (SOP).

“Latihan Dalmas rutin ini kami laksanakan untuk memastikan seluruh personel memahami tahap-tahap penanganan massa sesuai SOP, mulai dari tindakan persuasif oleh Tim Negosiator hingga penyiapan Dalmas Lanjut,” ujar Dedi.

Menurutnya, latihan tidak hanya bertujuan membentuk kemampuan fisik dan teknis. Lebih dari itu, personel dituntut mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan tetap mengedepankan profesionalisme serta pendekatan humanis.

Sebab, di balik setiap barisan massa yang dihadapi polisi, ada masyarakat dengan berbagai kepentingan dan persoalan.

Karena itu, kekuatan tidak selalu menjadi pilihan pertama.

Dialog didahulukan. Pendekatan persuasif diupayakan. Namun ketika situasi benar-benar berkembang menjadi ancaman, personel harus siap menjalankan prosedur sesuai tahapan yang telah dilatih.

Latihan di Lapangan Polres Majalengka itu pun menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak lahir secara tiba-tiba.

Ia dibentuk dari latihan yang berulang, disiplin yang dijaga, serta kekompakan yang terus diasah.

Di tengah suara komando dan hentakan sepatu para personel, ada pesan sederhana yang ingin dijaga: ketika menghadapi kerumunan yang penuh emosi, polisi harus menjadi pihak yang mampu tetap tenang.

Sebab, tugas utama bukan sekadar membubarkan massa, tetapi memastikan situasi tetap terkendali dan masyarakat tetap terlindungi.*** (Mukadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *