AB CHANNEL — Angka kemiskinan di Kabupaten Majalengka menunjukkan kabar yang cukup menggembirakan. Di tengah kebutuhan hidup yang terus bergerak naik, jumlah warga yang berada di bawah garis kemiskinan justru mengalami penurunan sepanjang 2025. Jum’at, 21 Agustus 2026.
Berdasarkan data kemiskinan Kabupaten Majalengka, jumlah penduduk miskin pada 2025 tercatat 128,58 ribu orang atau 10,31 persen dari total penduduk.
Angka tersebut turun sekitar 5,91 ribu orang dibandingkan 2024 yang mencapai 134,58 ribu orang atau 10,82 persen.
Penurunan itu mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam sebuah laporan statistik. Namun di baliknya, ada ribuan keluarga yang perlahan bergerak menjauh dari batas paling bawah kemampuan ekonomi.
Ada kebutuhan rumah tangga yang mulai lebih mudah dipenuhi, ada penghasilan yang mungkin sedikit lebih baik, serta ada keluarga yang perlahan memiliki ruang untuk bernapas setelah sebelumnya harus sangat berhati-hati mengatur pengeluaran.
Garis Kemiskinan Ikut Naik
Menariknya, penurunan jumlah penduduk miskin tersebut terjadi ketika Garis Kemiskinan (GK) justru mengalami kenaikan.
Pada 2025, Garis Kemiskinan Kabupaten Majalengka tercatat sebesar Rp566.574 per kapita per bulan. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang berada di level Rp547.912.
Artinya, dalam satu tahun terjadi kenaikan Garis Kemiskinan sebesar Rp18.662 per kapita per bulan atau 3,40 persen.
Kenaikan ini menggambarkan bahwa kebutuhan minimum yang digunakan sebagai batas untuk menentukan status kemiskinan juga semakin tinggi.
Dengan kata lain, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan dasar agar dapat melewati batas tersebut.
Di tengah kondisi itu, jumlah penduduk miskin justru turun. Hal ini menjadi salah satu gambaran bahwa sebagian masyarakat Majalengka mengalami peningkatan kemampuan ekonomi.
Jarak Pengeluaran Warga Miskin Semakin Mendekat
Cerita lain muncul dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1).
Pada 2024, indeks tersebut berada di angka 1,76. Setahun kemudian turun menjadi 1,16.
Penurunan P1 menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati Garis Kemiskinan.
Sederhananya, mereka yang masih berada dalam kategori miskin tidak lagi terlalu jauh dari batas minimum tersebut.
Angka itu menjadi penting karena kemiskinan bukan hanya soal berapa banyak orang yang masuk kategori miskin, tetapi juga seberapa jauh kondisi ekonomi mereka dari garis kemiskinan.
Semakin kecil jaraknya, semakin dekat pula kemampuan pengeluaran masyarakat miskin terhadap kebutuhan minimum yang menjadi ukuran.
Ketimpangan di Antara Warga Miskin Menyusut
Gambaran positif lainnya terlihat dari Indeks Keparahan Kemiskinan (P2).
Data menunjukkan P2 turun dari 0,45 pada 2024 menjadi 0,24 pada 2025.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin mengecil.
Artinya, jarak kondisi ekonomi antara warga miskin yang pengeluarannya paling rendah dengan warga miskin lainnya semakin menyempit.
Jika angka kemiskinan menggambarkan jumlah orang yang masih berada di bawah garis kemiskinan, maka P1 dan P2 memberikan cerita yang lebih dalam tentang kondisi mereka.
Pada 2025, bukan hanya jumlah penduduk miskin yang menurun, tetapi jarak pengeluaran mereka terhadap garis kemiskinan juga semakin dekat dan ketimpangan di antara kelompok miskin ikut menyusut.
Angka yang Menyimpan Cerita
Penurunan dari 134,58 ribu menjadi 128,58 ribu orang tentu bukan berarti persoalan kemiskinan di Majalengka telah selesai.
Masih ada lebih dari seratus ribu warga yang hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan.
Namun, angka tersebut memberikan sebuah sinyal bahwa sebagian masyarakat mulai bergerak ke arah yang lebih baik.
Di balik statistik 10,31 persen itu terdapat rumah-rumah tangga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan. Ada orang tua yang menghitung pengeluaran harian, pekerja yang mengejar pendapatan, hingga keluarga yang berharap anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, penurunan angka kemiskinan tidak semestinya berhenti sebagai angka dalam laporan.
Ia adalah gambaran tentang perjalanan ribuan keluarga—dari kondisi serba terbatas menuju kehidupan yang sedikit lebih lapang.
Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka yang sudah keluar dari garis kemiskinan tidak kembali jatuh ke dalamnya, sekaligus terus mendorong agar warga yang masih berada di bawah garis kemiskinan dapat menyusul bergerak menuju kehidupan yang lebih sejahtera.*** (AB)





















