Responsif
Daerah  

Jambore Nasional Kwaran Sumberjaya-Majalengka Putar Roda Ekonomi hingga Rp60 Juta Sehari, Warga Ikut Kecipratan Rezeki

Jambore Nasional Kwaran Sumberjaya

AB CHANNEL — Jambore Nasional Kwartir Ranting (Kwaran) Sumberjaya di Bumi Perkemahan (Buper) Jatilawang, Desa Cidenok, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, tak hanya menjadi ruang berkegiatan bagi para peserta Pramuka. Di balik tenda-tenda yang berdiri dan padatnya aktivitas peserta, muncul denyut ekonomi yang ikut menghidupkan warga sekitar. Minggu, 16 Agustus 2026.

Bagi masyarakat Desa Cidenok, keramaian jambore menjadi peluang ekonomi yang datang bersamaan dengan ribuan aktivitas peserta. Mulai dari pedagang, penyedia kebutuhan kegiatan, juru parkir, hingga warga yang menyediakan fasilitas sederhana bagi peserta, semuanya ikut merasakan perputaran uang.

Salah satunya Lubar, warga Desa Cidenok. Rumahnya yang berada di sekitar lokasi kegiatan secara tidak langsung menjadi tempat singgah bagi peserta yang membutuhkan kamar mandi.

Lubar mengaku, setiap kali peserta menggunakan fasilitas kamar mandi di rumahnya, ada yang memberikan uang secara sukarela. Nilainya memang tidak besar, namun jika dikumpulkan, cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Setengah tiga pagi saya digedor-gedor pintunya. Anak-anak mandi dan BAB. Ada yang ngasih Rp1.000, ada juga Rp2.000. Lumayan bisa beli gas elpiji,” ujar Lubar kepada AB CHANNEL.

Cerita Lubar memperlihatkan bahwa dampak ekonomi sebuah kegiatan besar tidak selalu hadir dalam bentuk transaksi bernilai tinggi. Uang receh yang berpindah tangan dari peserta kepada warga pun dapat menjadi sumber pemasukan yang berarti bagi keluarga.

Puluhan Pedagang Berjualan, Omzet Berputar

Kepala Desa Cidenok, Maman Suparman, mengatakan manfaat ekonomi jambore dirasakan oleh masyarakat di sekitar Buper Jatilawang. Tidak hanya pedagang, warga yang terlibat dalam kepanitiaan maupun pengelolaan parkir juga memperoleh kesempatan mendapatkan penghasilan.

Menurut Maman, terdapat sekitar 60 pedagang yang berjualan selama kegiatan berlangsung. Mayoritas merupakan warga Desa Cidenok, sementara sebagian lainnya datang dari luar desa.

“Pedagang mayoritas warga setempat, 30 persen dari luar,” terang Maman.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan jambore mampu menciptakan ruang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Warga tidak hanya menjadi penonton dari ramainya kegiatan, tetapi ikut mengambil peran dalam menyediakan kebutuhan peserta.

Dari makanan, minuman hingga kebutuhan harian peserta, aktivitas jual beli berlangsung mengikuti ritme kegiatan jambore.

Maman memperkirakan, perputaran ekonomi di kawasan Buper Jatilawang dapat mencapai sekitar Rp60 juta per hari.

Angka tersebut antara lain terlihat dari aktivitas sekitar 60 pedagang dengan rata-rata omzet sekitar Rp1 juta per pedagang setiap hari. Jika dihitung sederhana, sektor perdagangan saja berpotensi menghasilkan sekitar Rp60 juta dalam satu hari, belum termasuk parkir, jasa, kepanitiaan, penyediaan air, listrik dan kebutuhan pendukung lainnya.

Uang Jambore Mengalir ke Warga

Menurut Maman, dampak ekonomi tersebut tidak berhenti pada transaksi antara peserta dan pedagang. Pemerintah Desa Cidenok sebelumnya telah melakukan musyawarah untuk mengatur keterlibatan masyarakat dalam berbagai kebutuhan kegiatan.

Mulai dari kepanitiaan, pengelolaan parkir, penyediaan air, listrik hingga kebutuhan lainnya dibahas agar masyarakat sekitar dapat mengambil bagian.

“Pemasukan dari Buper digunakan untuk pemberdayaan wilayah sekitar,” jelas Maman.

Dengan pola tersebut, keberadaan Buper Jatilawang tidak hanya dipandang sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan Pramuka. Kawasan itu berpotensi menjadi salah satu titik penggerak ekonomi masyarakat apabila aktivitas serupa dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Namun, peluang tersebut juga masih dibarengi sejumlah pekerjaan rumah. Maman mengakui Buper Jatilawang masih memiliki keterbatasan fasilitas, salah satunya belum tersedianya MCK permanen yang memadai.

Kondisi itu menjadi catatan penting mengingat aktivitas perkemahan dalam skala besar membutuhkan fasilitas dasar yang cukup. Infrastruktur yang lebih baik bukan hanya meningkatkan kenyamanan peserta, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Dari sudut pandang ekonomi lokal, kisah jambore di Cidenok memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan yang awalnya berorientasi pada pendidikan, pembinaan karakter dan kepramukaan dapat menciptakan efek berantai bagi masyarakat.

Di tengah tenda-tenda yang dipenuhi aktivitas anak-anak Pramuka, ada pedagang yang membawa pulang omzet, juru parkir yang memperoleh penghasilan, warga yang menyediakan fasilitas, serta keluarga seperti Lubar yang bisa membeli gas elpiji dari uang pemberian peserta.

Nilainya mungkin kecil bagi satu orang, tetapi ketika bergerak bersama dalam satu kawasan, uang tersebut berubah menjadi roda ekonomi yang berputar setiap hari.

Untuk diketahui, Peserta jambore nasional kwaran Sumberjaya berjumlah 1303, dengan rincian peserta putra sejumlah 648 dan peserta putri sebanyak 655.*** (AB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *