Responsif
Daerah  

Bukan Lagi Sekadar Cari Kerja, Mahasiswa UNMA Didorong Jadi Pemain Ekonomi Majalengka

Universitas Majalengka Jawa Barat

AB CHANNEL — Di sebuah ruangan auditorium, sekitar 100 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Majalengka (UNMA) duduk bersama. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar teori tentang ekonomi, tetapi untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka: di tengah ekonomi Majalengka yang terus tumbuh, akan menjadi apa mereka setelah lulus nanti?

Pertanyaan itu mengemuka dalam Diskusi Publik “Bincang Ekonomi” bertema “Mahasiswa dalam Bingkai Ekonomi Nasional”, yang digelar di Auditorium Universitas Majalengka, Jumat (14/8/2026).

Suasana diskusi menjadi ruang pertemuan antara angka-angka ekonomi dan realitas kehidupan anak muda. Di hadapan mahasiswa, Wakil Bupati Majalengka Dena Muhamad Ramdhan menyampaikan bahwa daerah ini sedang mengalami perubahan ekonomi yang cukup signifikan.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Majalengka tercatat 6,86 persen. Angka tersebut menempatkan Majalengka sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Barat.

Namun, bagi mahasiswa yang memenuhi auditorium, angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kawasan industri yang berkembang, UMKM yang mencari pasar, sektor pertanian yang membutuhkan inovasi, serta lapangan pekerjaan yang menunggu tenaga muda dengan keterampilan baru.

“Lompatan ekonomi Majalengka telah terlihat konsisten. Potensi daerah terus berkembang dan ini harus menjadi peluang bagi generasi muda, khususnya mahasiswa,” ujar Dena.

Ketika Kampus Berhadapan dengan Dunia Nyata

Dena memaparkan struktur ekonomi Majalengka yang saat ini didominasi sektor industri pengolahan sebesar 26,98 persen, kemudian pertanian 18,05 persen, perdagangan 12,80 persen, dan konstruksi 11,21 persen.

Sejumlah indikator sosial ekonomi juga menunjukkan perkembangan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka pada 2025 mencapai 72,37 poin, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 3,62 persen. Persentase penduduk miskin berada di angka 10,31 persen.

Bagi mahasiswa, perkembangan tersebut menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi membuka peluang. Namun di sisi lain, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dan membangun usaha juga semakin menuntut kemampuan.

Karena itu, Dena mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada cita-cita menjadi pencari kerja.

“Mahasiswa jangan hanya menjadi pencari kerja. Mereka harus mulai disiapkan menjadi pencipta lapangan kerja melalui kewirausahaan dan inovasi,” katanya.

Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia kerja berubah cepat akibat digitalisasi. Kemampuan menggunakan teknologi, membaca pasar dan menciptakan peluang menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan ijazah.

Jangan Hanya Jadi Penonton

Pesan serupa disampaikan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Majalengka, Dr. H. Ida Heriyani, SKM, M.Si.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam pembangunan. Mereka dapat menjadi penggerak inovasi, membangun kewirausahaan sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

“Mahasiswa harus mampu membaca perkembangan ekonomi, memahami dampaknya, kemudian mengambil tindakan yang tepat. Jangan hanya menjadi penonton pembangunan,” ungkapnya.

Kalimat itu seolah mengubah posisi mahasiswa dari sekadar penerima materi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah.

Sebab perubahan ekonomi tidak selalu dimulai dari perusahaan besar atau kebijakan pemerintah. Ia juga dapat berawal dari keputusan kecil seorang mahasiswa—membeli produk UMKM lokal, membantu memasarkan produk desa melalui media sosial, menggunakan pembayaran digital, atau bahkan mencoba membangun usaha sendiri.

Ekonomi Ternyata Ada di Sekitar Kita

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi UNMA, Yogi Ginanjar, SE, MA, Ak, mengajak mahasiswa melihat ekonomi dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ketika seseorang membeli produk UMKM, menggunakan QRIS, berbelanja melalui platform daring, hingga mencari tempat magang, sebenarnya mereka sudah terlibat dalam aktivitas ekonomi.

“Literasi ekonomi bukan sekadar menghafal teori. Ada tiga hal penting, yaitu membaca, memahami, dan bertindak,” jelasnya.

Pemahaman tersebut penting agar mahasiswa tidak mudah terbawa tren, panik menghadapi isu ekonomi, ataupun mengikuti fenomena FOMO tanpa memahami konsekuensinya.

Sebaliknya, mahasiswa diharapkan mampu membaca perubahan pasar dan menemukan peluang baru yang muncul seiring perkembangan teknologi.

Majalengka Sedang Berubah, Anak Mudanya Jangan Tertinggal

Alumni Fakultas Ekonomi sekaligus aktivis Kenny Hilman Seminck membawa mahasiswa melihat perubahan Majalengka dari perspektif yang lebih luas.

Majalengka perlahan bergerak dari daerah yang kuat dengan sektor agraris menuju wilayah yang juga memiliki geliat industri. Posisi Majalengka dalam kawasan Rebana Metropolitan semakin membuka ruang bagi munculnya aktivitas ekonomi baru.

Bagi generasi muda, perubahan itu merupakan peluang yang tidak datang setiap saat.

Kenny mendorong mahasiswa agar lebih responsif terhadap perkembangan kawasan industri, teknologi kecerdasan buatan (AI), UMKM, ketenagakerjaan hingga kebijakan ekonomi pemerintah.

Sebab ketika sebuah daerah berubah, kebutuhan terhadap sumber daya manusia juga ikut berubah.

Dari Bangku Kuliah, Menuju Peluang Nyata

Bagi Anisa, salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNMA yang mengikuti diskusi, kegiatan tersebut memberikan perspektif berbeda tentang ekonomi.

“Diskusi ini sangat menarik karena kami tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga mengetahui bagaimana kondisi ekonomi Majalengka dan peluang yang bisa dimanfaatkan mahasiswa,” katanya.

Hari itu, auditorium UNMA bukan hanya menjadi tempat bertemunya mahasiswa dengan para pembicara. Lebih dari itu, ruang tersebut menjadi tempat anak-anak muda melihat kembali posisi mereka di tengah perubahan ekonomi daerah.

Majalengka sedang bertumbuh. Industri bergerak, UMKM berkembang, teknologi mengubah cara orang bekerja dan berusaha.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar “di mana mahasiswa akan bekerja setelah lulus?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “mampukah mereka menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi Majalengka?”

Diskusi itu mungkin berakhir ketika sesi tanya jawab ditutup. Namun bagi sekitar 100 mahasiswa yang hadir, percakapan tentang masa depan ekonomi baru saja dimulai.*** (Yayan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *