AB CHANNEL — Di tengah hijaunya pepohonan Bumi Perkemahan (Buper) Jatilawang, Desa Cidenok, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, suara langkah dan keceriaan anak-anak Pramuka berpadu dengan semangat yang tak mudah padam.
Ransel di punggung, seragam cokelat yang dikenakan dengan bangga, serta senyum yang menghiasi wajah para peserta menjadi tanda bahwa sebuah perjalanan baru telah dimulai.
Jumat (14/8/2026), Buper Jatilawang menjadi saksi berkumpulnya generasi muda dalam Pembukaan Jambore Pramuka Tingkat Kwartir Ranting (Kwaran) Sumberjaya. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 dan diikuti peserta dari sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Sumberjaya.
Bagi sebagian peserta, jambore mungkin hanya berarti beberapa hari meninggalkan rumah dan tidur di dalam tenda. Namun di balik kesederhanaan itu, ada pelajaran besar yang sedang mereka jalani: belajar mandiri, belajar berbagi, belajar bertanggung jawab, dan belajar menghargai teman.
Di lapangan, mereka berdiri dalam satu barisan. Tidak ada perbedaan antara siapa yang paling pintar, paling kuat, atau paling menonjol. Semua mengenakan seragam yang sama dan membawa semangat yang sama.
Semangat Pramuka adalah semangat persaudaraan.
Pembukaan jambore dilakukan langsung oleh Ketua Pramuka Kwaran Sumberjaya, Bona, S.Pd., M.Pd. Sejumlah tokoh dan unsur pemerintahan turut hadir, di antaranya Camat Sumberjaya Wahyu Sudianto, S.I.P., Danramil Sumberjaya Kapten CKE Bajuri, Kapolsek Sumberjaya AKP Adeng, Kepala Desa Cidenok Maman Suparman, Ketua PGRI Sumberjaya Farhan Lazuardi, S.Pd., para Ketua Gugus Depan/Mabigus atau kepala sekolah, panitia, pembina, guru pendamping, serta para peserta Pramuka.
Di antara barisan itu, hadir pula jajaran Polsek Sumberjaya Polres Majalengka Polda Jawa Barat. Kehadiran kepolisian bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menjadi bagian dari upaya mendampingi ruang tumbuh generasi muda.
Kapolres Majalengka AKBP Muhammad Aldy Sulaiman, S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Sumberjaya AKP Adeng, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan kepramukaan yang dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak-anak bangsa.
“Kegiatan Pramuka merupakan salah satu sarana yang baik dalam membentuk karakter generasi muda. Kami mendukung kegiatan positif seperti ini dan berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan semangat, disiplin, serta tetap menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar AKP Adeng.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.
Sebab, karakter tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil—bangun tepat waktu, merapikan perlengkapan sendiri, membantu teman yang kesulitan, menaati aturan, hingga berani bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.
Di dalam kegiatan Pramuka, hal-hal kecil tersebut menjadi pengalaman yang kelak dibawa pulang.
Personel Polsek Sumberjaya juga melakukan pemantauan selama kegiatan berlangsung untuk memastikan seluruh rangkaian jambore berjalan aman dan tertib. Bagi kepolisian, menciptakan suasana yang aman merupakan bagian dari upaya memberikan ruang yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.
Sementara bagi para peserta, Jatilawang bukan sekadar tempat mendirikan tenda.
Tempat ini menjadi ruang untuk menemukan arti persahabatan. Ruang untuk belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kenyamanan di rumah. Ada kalanya harus tidur beralaskan tikar, memasak bersama, berjalan dalam barisan, membantu teman, dan menghadapi tantangan dengan keberanian.
Di sanalah nilai-nilai Pramuka menemukan maknanya.
Mandiri dalam langkah. Disiplin dalam tindakan. Setia kawan dalam kebersamaan. Dan cinta tanah air dalam setiap pengabdian.
Jambore Kwaran Sumberjaya pun diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta untuk mengembangkan keterampilan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, mempererat persaudaraan, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Sebab, dari tenda-tenda sederhana di Buper Jatilawang, mungkin sedang tumbuh calon pemimpin masa depan.
Mereka yang hari ini belajar mengikat tali, mendirikan tenda, menjaga kebersihan, dan menolong sesama, kelak diharapkan menjadi generasi yang mampu menjaga negeri dengan cara mereka sendiri.
Api unggun boleh padam ketika malam berganti pagi. Namun api semangat Pramuka harus tetap menyala—di hati, dalam tindakan, dan dalam pengabdian kepada bangsa dan tanah air.*** (Mukadi)





















