Responsif
Daerah  

Ketika Air Menjadi Harapan Petani, Majalengka Perkuat Irigasi Hadapi Ancaman Kekeringan

Atasi program kekeringan Pemkab Majalengka perkuat irigasi

AB CHANNEL— Bagi petani, air bukan sekadar aliran yang membasahi tanah. Ia adalah harapan. Ia menentukan apakah benih yang ditanam akan tumbuh, apakah bulir-bulir padi akan menguning, dan apakah musim panen akan berakhir dengan senyum atau justru kecemasan.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kekeringan, Pemerintah Kabupaten Majalengka terus berupaya memastikan harapan itu tidak mengering di tengah jalan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Irigasi Perpipaan Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Aula Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Rabu (12/8/2026).

Bupati Majalengka Eman Suherman hadir bersama Wakil Bupati, Asisten Administrasi, Kepala DKP3, Kepala Dinas PUTR, Kepala BKPSDM, Kepala Disdukcapil, para penyuluh pertanian, serta perwakilan kelompok tani dan Gapoktan dari berbagai wilayah.

Di ruang pertemuan itu, persoalan air menjadi pembicaraan utama. Sebab bagi mereka yang menggantungkan hidup dari sawah, datangnya kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Kemarau bisa berarti ancaman terhadap hasil panen dan penghasilan keluarga.

Jangan Biarkan Sawah Kehilangan Air

Bupati Eman Suherman menegaskan, ketersediaan air menjadi salah satu kunci untuk menjaga produksi pertanian sekaligus memperkuat swasembada pangan daerah.

Menurutnya, jaringan irigasi, pompanisasi hingga pemanfaatan energi terbarukan harus terus diperkuat, terutama bagi petani yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan.

“Hari ini saya bersama Pak Wakil Bupati dan jajaran OPD bersilaturahmi dengan para petani, kelompok tani, Gapoktan, dan penyuluh. Mengingat kondisi berdasarkan BMKG El Nino sedang tinggi-tingginya, saya tidak ingin teman-teman petani mengalami gagal panen,” ujar Eman.

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan pemerintah.

Di baliknya ada kekhawatiran terhadap ribuan hektare sawah yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat. Ada keluarga yang menunggu hasil panen, ada biaya pendidikan anak yang harus dibayar, ada kebutuhan rumah tangga yang bergantung pada keberhasilan musim tanam.

Karena itu, pemerintah mencoba mendatangkan air ke lahan-lahan yang membutuhkan.

119 Pompa dan 37 Jaringan Perpipaan

Pemkab Majalengka telah menyalurkan 119 unit Irigasi Perpompaan (Irpom) dan 37 unit Irigasi Perpipaan (Irpip) ke sejumlah wilayah.

Sarana tersebut diharapkan membantu petani memenuhi kebutuhan air, terutama menghadapi Musim Tanam II (MT2), sekaligus mengurangi risiko kekeringan yang dapat mengganggu produktivitas tanaman.

Namun perjuangan tidak berhenti pada pompa.

Pemkab juga terus mengoptimalkan jaringan pengairan melalui pembangunan dan penanganan sodetan di sejumlah wilayah.

Hasilnya mulai dirasakan. Bupati menyebut, penanganan sodetan di wilayah utara memberikan dampak terhadap luas lahan yang dapat dipanen.

“Biasanya dari 2.000 hektar di wilayah utara, hanya 500 hektar yang bisa dipanen karena ancaman gagal panen. Sekarang dengan adanya sodetan yang disetujui BBWS, seluruh 2.000 hektar tersebut sudah bisa dipanen,” katanya.

Angka itu bukan sekadar hitungan hektare.

Di mata petani, 2.000 hektare berarti ribuan petak sawah yang kembali memiliki harapan untuk menghasilkan. Berarti pula lebih banyak keluarga yang bisa menatap musim panen dengan keyakinan.

Dari Solar ke Matahari

Persoalan air juga dihadapi petani di wilayah Ligung, Bantarwaru dan Leuweunghapit.

Untuk jangka pendek, Pemkab Majalengka mendorong penggunaan teknologi pompa berbasis solar cell atau tenaga surya melalui kerja sama dengan BBWS.

Energi matahari yang selama ini terasa sebagai bagian dari panas kemarau diharapkan justru dapat dimanfaatkan menjadi tenaga untuk mengalirkan air ke sawah.

Teknologi tersebut juga diharapkan mengurangi biaya operasional petani, terutama penggunaan bahan bakar solar.

Untuk jangka panjang, Pemkab Majalengka mengusulkan pembangunan sodetan baru sepanjang sekitar 700 meter di Saluran Sindupraja.

Pemerintah menyatakan siap mendukung proses pembebasan lahan agar pembangunan sodetan dapat direalisasikan dan pasokan air menuju wilayah Bantarwaru serta Leuweunghapit semakin terjamin.

Rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan teknis yang mengalami kerusakan juga terus didorong. Selain itu, Pemkab mengusulkan pembangunan sejumlah embung, termasuk di wilayah Mekarjaya, kepada Kementerian Pertanian.

Lahan Pertanian Tak Boleh Hilang

Menjaga pangan ternyata bukan hanya soal bagaimana air sampai ke sawah.

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: menjaga agar sawah tetap menjadi sawah.

Pemkab Majalengka bersama ATR/BPN telah menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 40.700 hektare.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi lahan pangan agar tidak mudah beralih fungsi.

Sebab sehebat apa pun sistem irigasi yang dibangun, tidak akan berarti jika lahan pertanian terus berkurang.

Majalengka ingin mempertahankan ruang bagi petani untuk menanam, memanen dan terus menjadi bagian dari kekuatan pangan Jawa Barat.

Petani Tak Lagi Hanya Menunggu Hujan

Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman mengatakan, monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memastikan sarana Irpom dan Irpip yang telah disalurkan benar-benar berfungsi serta memberikan manfaat bagi kelompok tani.

DKP3 bersama para penyuluh pertanian juga terus mendampingi kelompok tani dan memetakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan tinggi.

Pemetaan tersebut diperlukan agar bantuan pemerintah—baik pompa, jaringan perpipaan, perbaikan irigasi maupun dukungan lainnya—dapat diberikan secara tepat sasaran.

Bagi petani, dukungan tersebut perlahan menghadirkan rasa aman.

Kohar, petani asal Ligung, mengaku bersyukur karena bantuan pompa, sodetan dan fasilitas pompa listrik membuat beban biaya operasional semakin ringan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Bupati dan Pemkab Majalengka. Dulu setiap kali El Nino atau musim kemarau datang, kami selalu cemas sawah tadah hujan akan kekeringan dan gagal panen. Bantuan pompa, sodetan, dan fasilitas pompa listrik ini sangat membantu kami mengurangi biaya operasional solar,” ujarnya.

Kini, air yang mengalir bukan hanya membasahi tanah. Ia juga mengalirkan optimisme.

“Air sekarang bisa mengalir lancar sampai ke ujung sawah. Kami makin optimistis swasembada dan hasil panen MT2 ini bisa sukses melimpah,” kata Kohar.

Ketika Air Mengalir, Harapan Pun Tumbuh

Di Majalengka, perjuangan menjaga pangan sedang berlangsung dari saluran-saluran kecil, pompa-pompa yang bekerja, sodetan yang dibangun, hingga tangan petani yang tetap setia mengolah tanah.

Pemerintah, BBWS, DKP3, para penyuluh, kelompok tani dan Gapoktan dipertemukan oleh satu kepentingan: memastikan sawah tidak kehilangan air dan petani tidak kehilangan harapan.

Sebab bagi mereka, panen bukan hanya tentang berapa banyak gabah yang terkumpul.

Panen adalah tentang dapur yang tetap mengepul, anak-anak yang tetap bisa sekolah, dan keluarga yang bisa menjalani hari tanpa terlalu cemas menunggu hujan.

Di tengah perubahan iklim yang tak selalu bisa ditebak, Majalengka memilih untuk tidak hanya menunggu langit.

Air diupayakan untuk dicari, dialirkan dan dijaga.

Dan ketika air akhirnya sampai ke ujung sawah, di sanalah harapan tumbuh kembali—bersama padi yang perlahan menghijau dan keyakinan bahwa musim panen masih bisa datang dengan kabar baik.*** (Mukadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *